This site uses cookies from Google to deliver its services, to personalize ads and to analyze traffic. Information about your use of this site is shared with Google. By using this site, you agree to its use of cookies. Learn More

Cerpen Cinta: Janji Terakhir - Fakta Unik

Cerpen Cinta: Janji Terakhir kopas99.blogspot.com - Berikut ni adlh update sebuah cerpen cinta yg bisa anda baca di sela sela kesibukan pekerjaan ...

JANJI TERAKHIR
oleh Efih Sudini Afrilya

Pagi ni dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yg begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tak ingin kehilangan dia., meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tak peduli dgn perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Elga, meskipun dia sering menghianati cintaku.

Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!

Aku tak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan Dia memelukku erat.

Maafin aku Nilam, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Nilam. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tak ingin kehilangan Elga, aku sangat mencintainya.

Malam ni Elga menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun biru pemberian Elga dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Elga di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah.

Nilam, kamu cantik banget malam ini.

Makasih. Kita jadi dinner kan?

Ya tentu, tapi Nilam, malam ni aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?

Engga ko, ya udah kita panggil Taksi aja, ayo.

Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Elga. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Elga menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Elga menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yg telah Elga perbuat padaku.

Kami berhenti disebuah Tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Elga benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Elga, dia tak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan.

Kenapa El? Mienya gak enak?

Enggak ko, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini Nilam?

Enggak. Aku sering ko makan ditempat kaya gini. Mie ayamnya enak loch. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.

Aku yakin, Elga gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Elga mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal.
Dua tahun bersama Elga bukan waktu yg singkat, dan tak mudah untk mempertahankan hubungan kami selama ini. Elga sering menghianati aku, bukan satu / dua kali Elga berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yg membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku wanita bodoh yg mau dipermainkan oleh Elga. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku.

Selesai makan Elga Nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya.

Apa dompetku ketinggalan di Taksi?

Yakin di saku gak ada?

Gak ada. Gimana dong?

ya udah, pake uang aku aja. Setiap jalan selalu kamu yg traktir aku, sekarang giliran aku yg traktir kamu. Ok!

ok. Makasih ya sayang, maafin aku.

Saat di kampus, aku bertemu dgn Alin dan Flora. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tak bersama, hingga saat ni mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Alin menarik tanganku.

Nilam, kamu sakit? Ko pucet sich?

Alin bicara padaku, ni seperti mimpi, Alin masih peduli padaku.

Engga, Cuma capek aja ko Lin. Kalian apa kabar?

Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sich dimainin sama cowok playboy kaya Elga! Jangan-jangan Elga gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.

Stop Flo! Kasian Nilam! Kamu kenapa sich Flo bahas itu mulu? Nilam kan gak salah.
Udah dech Alin, kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Nilam! Kenapa kamu diselingkuhin terus!

Flora bener, jangan-jangan Elga gak sayang sama aku, Elga gak cinta sama aku, itu yg buat Elga selalu menghianati aku. Selama ni aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Elga dan takut kehilangan Elga. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Elga padaku. Jika benar Elga tak mencintaiku, aku benar-benar tak bisa memaafkannya lagi.

Meskipun tak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Elga bersama seorang wanita. Aku tak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Elga menghianatiku lagi. Kali ni aku tak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dlm mobil, aku bisa melihat wanitaitu, sangat jelas, dia sahabatku, Flora....

Sungguh, aku benar-benar tak bisa memaafkan Elga. Akan ku pastikan, apa Elga akan jujur padaku / dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Elga.

Hallo, kamu bisa jemput aku sekarang El?

Maaf Nilam, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu gak bawa mobil ya?

Emang kakak kamu mau kemana El?

Mau ke..., itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?

El! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja? Sejak Flora jadi kakak kamu? Hah?!!

Nilam, kamu ngomong apa sayang? Kamu bilang sekarang lagi dimana?

Aku liat sendiri kamu pergi sama Flora El! Kamu gak usah bohongin aku! Kali ni aku gak bisa maafin kamu El! Kenapa kamu harus selingkuh sama Flora El? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi! Kita Putus El!

Nilam, ni gak.......

Kubuang ponselku, kulaju mobilku dgn kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Elga tak mencintaiku, dia berselingkuh dgn sahabatku.

Beberapa hari setelah kejadian itu aku tak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untk melupakan Elga, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Elga datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Elga sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tak menemuinya. Aku berjanji tak akan memafkan Elga, dan janjiku takan kuingkari, tak seperti janji-janji Elga yg tak akan menghianatiku yg selalu dia ingkari.

Hari ni kuputuskan untk pergi kuliah, aku berharap tak bertemu dgn Elga. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Elga ada dihadapanku.

Maafin aku Nilam! Aku sama Flora gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Nilam!

Kita udah putus El! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu bebas! Kamu mau punya pacar Tujuh jg bukan urusan aku!

Tapi Nilam.....

Aku berlari meninggalkan Elga, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Elga terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan............

Elgaaaa.....

Elga tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yg ia bawa berserakan bercampur dgn merahnya darah yg keluar dari kepala Elga.

Elga, maafin aku!

Nilam. Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam......

Elgaaaaaa......

Elga meninggal saat itu juga, ni semua salahku, jika aku mau memaafkan Elga semua ni takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yg sangat pahit yg tak aku inginkan, yg tak mungkin bisa aku lupakan. Elga menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan.
Rasanya ingin sekali menemani Elga didalam tanah sana, menemaninya dlm kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri.

Satu minggu setelah Elga meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersama Elga yg tak akan pernah terulang lagi. Senyuman Elga, tatapan Elga, takan pernah bisa kulupakan.

Nilam sayang, ni ada titipan dari Ibunya Elga. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Elga tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!

Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.

Kubuka bingkisan dari Ibu Elga, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yg telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu.

Dear Nilam,
Nilam sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yg udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo Cuma kamu yg terbaik buat aku, Cuma kamu yg aku cinta.
Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ni akan menjadi cincin pernikahan kita.
Aku sangat mencintaimu, aku tak ingin berpisah denganmu Nilam.
Love You
Elga


Air mataku mengalir semakin deras dari tiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Elga, aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya.

Bu, aku udah nikah sama Elga!

Nilam, kenapa sayang?

Ini! Kutunjukan cincin pemberian Elga dijari manisku.

Nilam, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!

Sekarang aku mau cerai sama Elga Bu! kulepas cincin pemberian Elga dan memberikannya pd Ibu.

Aku titip cincin pernikahanku dgn Elga Bu! Ibu harus menjaganya dgn baik!
Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.
*****

//2013/01/cerpen-cinta-janji-terakhir.html


other source : http://solopos.com, http://google.com, http://tabloidkorea.com

0 Response to "Cerpen Cinta: Janji Terakhir - Fakta Unik"

Posting Komentar

Contact

Nama

Email *

Pesan *